Ketika Tuhan Bersalah - Bagian 3

 Tuhan Tidak Pernah Memihak

Rasa tidak adil sering kali tidak lahir dari kegagalan, melainkan dari perbandingan. Dari melihat orang lain berjalan lebih ringan di jalur yang terasa sama. Dari menyaksikan hidup orang lain tampak rapi, sementara hidup sendiri penuh tambalan. Di situlah luka sosial mulai bekerja, bukan sebagai kecemburuan terbuka, tetapi sebagai pertanyaan yang terus mengendap: mengapa hidup bisa seberbeda ini?





Banyak orang berusaha menenangkan diri dengan kalimat, “Jangan bandingkan hidupmu dengan orang lain.” Namun perbandingan tidak selalu disengaja. Ia muncul setiap kali melihat usaha yang serupa berakhir dengan hasil yang jauh berbeda. Ketika satu orang berdoa dan segera mendapat jawaban, sementara yang lain harus menunggu tanpa kepastian. Ketika satu orang jatuh dan langsung ditopang, sementara yang lain dibiarkan belajar bangkit sendirian.

Di titik itu, Tuhan mulai terasa tidak netral. Bukan karena manusia ingin diistimewakan, tetapi karena perlakuan yang terasa timpang. Jika Tuhan Maha Adil, mengapa jalan hidup dibagikan dengan ukuran yang berbeda? Mengapa ada yang dipermudah bahkan sebelum meminta, sementara yang lain harus membuktikan diri berulang kali hanya untuk bertahan?

Hidup orang lain terlihat lebih mudah bukan karena bebas masalah, tetapi karena masalahnya tidak terasa mematikan. Mereka masih bisa tertawa di sela kegagalan. Masih bisa berharap setelah kehilangan. Sementara sebagian orang harus menata ulang hidupnya dari nol setiap kali percaya pada rencana. Dari situ muncul rasa iri yang tidak diucapkan, karena iri dianggap dosa, padahal yang dirasakan sebenarnya adalah kelelahan melihat ketidakadilan.

Perasaan ini jarang diakui. Kebanyakan memilih diam, menundukkan kepala, dan meyakinkan diri bahwa semua orang punya ujiannya masing-masing. Namun di dalam diam itu, ada kemarahan kecil yang tumbuh. Kemarahan karena merasa selalu berada di sisi yang harus mengalah. Kemarahan karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya berubah-ubah tergantung siapa yang memainkannya.

Ketika perbandingan semakin sering terjadi, Tuhan tidak lagi dipandang sebagai penyeimbang, melainkan sebagai penentu yang pilih-pilih. Ada hidup yang seolah dijaga penuh, dan ada hidup yang dibiarkan keras agar kuat dengan sendirinya. Masalahnya, tidak semua orang ingin menjadi kuat. Sebagian hanya ingin hidup yang adil.

Di sinilah rasa iman tidak runtuh, tetapi tercoreng. Bukan karena tidak percaya pada Tuhan, melainkan karena sulit mempercayai keadilan-Nya. Tuhan masih diyakini ada, tetapi keberpihakan-Nya mulai dipertanyakan. Dan pertanyaan itu semakin sulit dibungkam setiap kali melihat orang lain melangkah lebih ringan tanpa harus melewati luka yang sama.

Pada akhirnya, perbandingan tidak lagi ditujukan pada diri sendiri, melainkan pada Tuhan. Bukan untuk menuntut keistimewaan, tetapi untuk meminta kejelasan. Jika usaha dan doa tidak menjamin hasil yang setara, lalu apa yang sebenarnya dinilai? Dan jika hidup terus terasa timpang, wajar jika muncul dugaan yang paling menyakitkan.


Mungkin Tuhan hanya mendengar orang-orang tertentu saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Tuhan Bersalah - Bagian 1

Ketika Tuhan Bersalah - Bagian 2

AI Chatbot Integration on the New Student Admissions Information Landing Page of Muhammadiyah University of Tasikmalaya to Improve Service Efficiency