Ketika Tuhan Bersalah - Bagian 1
Kesimpulan yang mungkin terdengar kurang ajar
Ada satu pikiran yang sering muncul diam-diam, tetapi tidak pantas untuk diucapkan: "mungkin Tuhan yang bersalah". Pikiran ini tidak lahir dari kemalasan atau keengganan berusaha, melainkan dari kelelahan yang menumpuk setelah terlalu lama berharap tanpa kepastian. Ketika usaha sudah dilakukan, doa sudah dipanjatkan, dan kesabaran sudah dipaksakan, namun tetap berjalan ke arah yang tidak diinginkan, wajar jika seseorang mulai mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya.
.jpg)
Jika Tuhan Maha Mendengar, seharusnya Dia tahu betul betapa lelahnya berharap. Jika Tuhan Maha Adil, seharusnya hidup tidak terasa seberantakan ini. Dan jika Tuhan benar-benar peduli, seharusnya hadir ketika seseorang benar-benar sendirian. Masalahnya, hidup sering kali tidak berjalan seperti itu.
Rencana-rencana yang disusun dengan hati-hati justru runtuh tanpa penjelasan, sementara doa-doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh berakhir sebagai rutinitas kosong.
Tidak semua orang meminta hidup yang istimewa. Sebagian hanya ingin hidup yang tidak terasa menghakimi dirinya. Satu hal kecil berjalan sesuai rencana. Satu doa sederhana dijawab tanpa harus dibayar dengan kehilangan yang lain. Namun kenyataannya, setiap kali harapan hampir sampai, arah hidup justru berubah tanpa peringatan. Situasi ini sering disebut sebagai ujian, tetapi bagi mereka yang mengalaminya terus-menerus, yang terasa hanyalah seolah-olah Tuhan seperti sedang mempermainkan.
Ada fase ketika seseorang mencoba berdamai. Mencari kesalahan dalam diri sendiri. Meyakinkan diri bahwa semua ini pasti ada maksud baiknya. Namun semakin keras usaha untuk memahami, semakin kuat perasaan tidak didengar. Diamnya Tuhan terasa bukan sebagai ketenangan, melainkan sebagai bentuk pengabaian. Jika Tuhan memiliki rencana, mengapa rencana itu kerap menghancurkan apa yang sudah susah payah dibangun? Jika Tuhan tahu yang terbaik, mengapa hidup justru terasa semakin sempit setiap kali seseorang berserah?
Perbandingan pun tak terhindarkan. Ada orang-orang yang hidupnya terlihat lebih ringan, doanya seolah cepat dikabulkan, jalannya terasa mulus sejak awal. Sementara yang lain harus berdarah-darah hanya untuk bertahan. Dari situ muncul pertanyaan yang tidak berani diucapkan: apakah Tuhan hanya mendengar orang-orang tertentu saja? Apakah ada hidup yang memang tidak cukup penting untuk diperjuangkan?
Tulisan seperti ini sering dianggap kurang ajar. Akan ada yang menyuruh lebih sabar, lebih ikhlas, lebih bersyukur. Namun tidak semua orang sedang ingin menjadi kuat. Sebagian hanya ingin jujur pada rasa lelahnya sendiri. Karena bagaimana mungkin rasa syukur dipaksakan ketika yang tersisa hanyalah kekecewaan? Bagaimana mungkin keyakinan dijaga ketika setiap harapan berakhir dengan kegagalan?
Pada titik tertentu, menyalahkan diri sendiri terasa tidak lagi adil. Jika usaha sudah dilakukan sejauh mungkin dan hasilnya tetap kehancuran, maka wajar jika arah kesalahan dipertanyakan. Dan di sanalah pikiran itu akhirnya muncul dengan utuh: mungkin masalahnya bukan pada manusia. Mungkin, untuk sementara waktu, Tuhanlah yang bersalah.
Tulisan ini tidak ditujukan untuk melawan Tuhan. Tulisan ini adalah ruang bagi mereka yang pernah kecewa, marah, dan lelah berharap, tetapi terlalu takut mengakuinya. Jika doa-doa terasa tidak penting dan hidup terasa tidak berpihak, mungkin ini bukan akhir dari keyakinan, melainkan awal dari kejujuran.
Komentar
Posting Komentar